Suasana kalut dan berkabung masih menyelimutiku hari itu. Kabar duka dari seorang yang selama beberapa tahun terakhir sangat berpengaruh di hidupku telah meninggal dunia siang menjelang sore hari itu membuatku terpaku. Beliau adalah sosok senior yang sangat mengayomi dan telah membimbingku beberapa tahun terakhir, membantuku dalam berbagai hal, dan kini berpulang ke ibu bumi. Selepas magrib hari itu langsung kutempuh perjalanan ke Prigen—kediaman dan tempat persemayaman terakhirnya—mengantarkan kepergian beliau untuk selamanya. Maklum kalau malam itu aku tidak langsung merespons notifikasi Instagram dari adik temanku itu.
Kehilangan beliau merupakan pukulan telak bagiku. Dan kurasa bukan hanya aku, tapi seluruh kolega, bahkan juga semua orang yang mungkin secara tidak langsung terbantu olehnya selama ini. Beliaulah yang mengajakku membangun sesuatu, menjadi sesuatu, dan istikamah memperjuangkan sesuatu. Beliaulah yang juga mendorongku untuk melanjutkan studi yang selama ini selalu kutinggalkan. Aku sudah dua kali meninggalkan bangku formal perkuliahan. Dan berkatnya kini aku kembali menempuh studi.
Malam pun larut. Aku sudah tiba di rumah. Merebahkan badan. Dan sesekali kembali terngiang kenangan-kenangan tentang beliau dan besarnya tanggung jawab yang ia percayakan kepadaku selama ini. Hingga sesaat sebelum terlelap kembali aku teringat ada pesan Instagram. Tapi sudah letih rasanya hati penuh sesak hari itu.
*****
Esok hari, kubuka pesan itu, tanpa rasa, hanya menjawab. Lantaran suasana kalut yang belum sepenuhnya kabur dari benak.

0 Comments:
Posting Komentar